Kebijakan Dalam Pengentasan Kemiskinan di Indonesia
Written by Selamet Joko Utomo
Seperti yang dipahami selama ini, persoalan kemiskinan telah sedemikian peliknya untuk diurai dan dipecahkan. Hal ini disebabkan oleh multispektrum tentang definisi kemiskinan, sehingga definisi dan pengukurannya tidak mudah utuk diselesaikan dalam satu pegertian. Secara konseptual perdebataan yang muncul selama ini dihadapkan dua sisi yang saling bertabrakan, yaitu mmendudukan kemiskinan dalam aspek ekonomi semata atau memposisikan kemiskinan sebagai isu sosial. Jika kemiskinan dianggap sebagai masalah ekonomi saja, maka kemiskinan biasanya disederhanakan dalam bentuk berapa pendapatan perkapita atau jumlah asupan makaanan bergizi/ kalori per individu, namun jika kemiskinan dianggap sebagai isu sosial maka memandang kemiskinan merupakan keterbatasan individu untuk terlibat dalam partisipasi pembangunan, baik akibat dari ketidakmampuaan ketrampilan, pendidikan atau akses untuk mendapatkan penghasilan sehingga individu tersebut tidak mampu mencapai kesejahteraan.
Karakteristik kemiskinan di Indonesia cukup bervariasi, hal ini membuat penannggulangan kemiskinan di Indonesia belum terlaksana secara maksimal. Ada tiga karakteristik atau ciri kemiskinan di Indonesia,
Banyak penduduk Indonesia yang rentan terhadap kemiskinan, banyaknya masyarakat Indonesia yang hidup di bawah garis kemiskinan dan sedikit diatas garis kemiskinan, kelompok ini rentan terhadap kemiskinan.
Kemiskinan di Indonesia diukur dari segi pendapatan, sehingga tidak mengambarkan batas kemiskinan yang sebenarnya. Banyak orang- orang yang mungkin tidak tergolong miskin dari sisi pendapatan dapat dikategorikan atas dasar kurangnya akses terhadap pelayanan dasar serta rendahnya indikator- indikator pembangunan manusia.
Perbedaan karakteristik daerah yang besar di bidang kemiskinan, luas dan keragaman antar daerah di Indonesia merupakan ciri khas dari Indonesia, hal ini terlihat dengan adanya perbedaan antara pedesaan dan perkotaan dan juga kondisi geografis Indonesia yang beragam membuat pelayanan dasar yang tidak merata di setiap daerah.
Rencana Pelaksanaan Pembelajaran [RPP] adalah merupakan perangkat dalam proses pendidikan & pengajaran yang keberadaannya wajib disusun & dipersiapkan sendiri oleh setiap guru sebagai seorang pendidik. Langkah nyata yang kemudian menyertai kuwajiban ini yaitu, bahwa guru secara dedikatif bersedia menjamin pasti untuk melaksanakan proses belajar mengajar sesuai dengan Silabus dan RPP tersebut. Perlu menjadi perhatian secara seksama, bahwa RPP dan silabus haruslah sesuai benar dengan ketentuan menurut PP No. tahun 19 Tahun 2005 tentang SNP (Standar Nasional Pendidikan) dan Permen no. 41 tahun 2007.
Analisis Kualitas Pelayanan Terhadap Kepuasan Pasien RSUD Blambangan Banyuwangi
Written by Amini
Sasaran pembangunan kesehatan di Indonesia antara lain adalah terselenggaranya pelayanan kesehatan dan semakin bermutu dan merata. Dalam upaya mencapai sasaran ini, maka ditetapkan peningkatan mutu pelayanan rumah sakit sebagai bagian dari tujuan program pembangunan kesehatan. Pelayanan kesehatan saat ini, tidak terpaku hanya padapengobatan penyakittetapijuga memberikan pelayanan untuk usaha pencegahan dan meningkatkan kesehatan. Saat ini semakin banyak rumah sakit yangmenawarkan pelayanan kesehatan preventif (pencegahan) dan promotif (peningkatan) seperti pemeriksaan untuk checkup danpapsmear.
Perkembangan sektorindustritermasuk didalamnyajasakesehatan tidakterlepas dari tuntutan untuk tetap memperhatikan kualitas pelayanannya. Berbagai upayatelah dilakukan dalamupayameningkatkan pembangunan kesehatan yang lebih berdaya guna, efisien sehingga dapat menjangkau semua lapisan masyarakat, meningkatkan kualitas sumberdaya,membenahiperalatan dan obat-obatan serta memperbaikipenampilan rumah sakit.Adanyapelaksanaan pembangunan kesehatanyangberkesinambungan dan meratasertaditunjang dengan sisteminformasikesehatan yangsemakin mantap diharapkan derajat kesehatan masyarakatyangtelah dicapaidapatsemakin meningkatdan menjangkau seluruh rakyat Indonesia.
Berdasarkan temuan Hardiman (2003), sistem pelayanan kesehatan diIndonesiabelumbaik.Rumah sakitbelummampu menjamin mutu pelayanan kesehatan, misalnya dokter sering terlambat datang, pasien harus menunggu lama untuk mendapatpelayanan,belummenyediakan ruangtunggu yangnyaman, belumadakontinuitaspelayanan,belumbisamenjamin waktu penyerahan obat sertabelummampu membuatsistemperesepanon linelewatkomputer.Masih banyak rumah sakityangbelum consumeroriented,belummemberikan kemudahan aksespelayanan bagipasien.Kenyataan inimembuatcitrarumah sakitdiIndonesia tertinggal dibandingkan dengan di luar negeri seperti Malaysia.
RSUD Blambangan Banyuwangi merupakan RS yang mempunyai Standar Mutu Pelayanan ISO 9001:2000. Standar pelayanan ini berorientasi kepada kepuasan pelanggan dan merupakan standar yang komprehensif bagi perusahaan pelayanan jasa seperti RSUD Blambangan Banyuwangi di Kabupaten Banyuwangi. RSUD Blambangan Banyuwangi untuk memenangkan persaingan dengan peningkatan mutu produk atau jasa adalah mendapatkan sertifikasi ISO 9001:2000 yang dapat diterapkan dalam jasa pelayanan kesehatan. Oleh karena itu perusahaan berusaha memenangkan persaingan dengan meningkatkan mutu produk/jasa, sehingga dapat memberikan kepuasan pelanggan.
Semakin ketatnya persaingan serta pelanggan yang semakin selektif dan berpengetahuan mengharuskan RSUD Blambangan Banyuwangi selaku salah satu penyedia jasa pelayanan kesehatan untuk selalu meningkatkan kualitas pelayanannya. Menurut Parasuraman, A., Zeithamal, Valerie A. and Berry, Leonard L., (1985) dimensi kualitas pelayanan yang dimaksud adalah reliability (keterandalan), responsiveness (cepat tanggap), assurance (jaminan), empathy (empati), dan tangible (bukti nyata). Untuk dapat menentukan pelayanan yang tepat, khususnya dalam pelayanan kepada pasien, diperlukan kajian tentang dimensi kualitas pelayanan kepada pasien RSUD Blambangan Banyuwangi. Sehubungan dengan kondisi itu, permasalaha yang perlu dibuktikan adalah variabel kehandalan, daya tanggap, jaminan, empati dan bukti fisik terhadap kepuasan pasien. Dengan demikian sehinggaorientasi penelitian ini adalah untuk membuktikan pengaruh kualitas pelayanan terhadap kepuasan pasien di RSUD Blambangan Banyuwangi. Berdasarkan latar belakang tersebut, tujuan dari penelitian ini adalah ingin mengetahui pengaruh variabel kualitas pelayanan yang terdiri dari bukti fisik, kehandalan, daya tanggap, jaminan, dan empatiterhadap kepuasan pasien RSUD Blambangan Banyuwangi
Berdasarkan hasil analisis, ternyata apabila dilihat pengaruh secara simultan maka kualitas pelayanan yang terdiri dari bukti fisik, kehandalan, daya tanggap, jaminan dan empati berpengaruh signifikan terhadap kepuasan pasien RSUD Blambangan Banyuwangi. Hal ini dapat dikatakan bahwa untuk dapat meningkatkan kepuasan pasien RSUD Blambangan Banyuwangi diperlukan pemberian kualitas pelayanan yang sebaik-baiknya terhadap pasien yang sedang dirawat di RSUD Blambangan Banyuwangi, dimana kualitas pelayanan yang harus diperhatikan guna meningkatkan kepuasanpasien RSUD Blambangan Banyuwangi adalah yang terkait dengan bukti fisik, kehandalan, daya tanggap, jaminan dan empati.
Apabila dianalisis secara parsial, kualitas pelayanan dalam bentuk bukti fisik berpengaruh signifikan terhadap kepuasan pasien RSUD Blambangan Banyuwangi. Hal ini dapat dijelaskan bahwa pasien RSUD Blambangan Banyuwangi akan terpuaskan apabila ruang pelayanan dan ruang tunggu memberikan kenyamanan, tenaga medis dan karyawan berpenampilan rapi dan sopan, fasilitas fisik seperti gedung, tempat parkir dan toilet memadai dan peralatan medis yang digunakan memadai.
Kualitas pelayanan dalam bentuk kehandalan berpengaruh signifikan terhadap kepuasan pasien RSUD Blambangan Banyuwangi. Hal ini dapat dijelaskan bahwa pasien RSUD Blambangan Banyuwangi akan terpuaskan apabila dokter dalam memberikan diagnosis penyakit akurat (tepat), penanganan pasien yang dilakukan perawat dan dokter cepat, perawat dan dokter selalu memberikan informasi tentang keadaan pasien dengan segera dan perawat dan dokter selalu memberikan pelayanan sesuai dengan waktu yang dijanjikan
Kualitas pelayanan dalam bentuk daya tanggap tidak berpengaruh terhadap kepuasan pasien RSUD Blambangan Banyuwangi. Hal ini dapat dijelaskan bahwa tidak terpuaskannya pasien RSUD Blambangan Banyuwangi kemungkinan disebabkan karenan beberapa faktor yang antara lain, perawat dan dokter dalam memberikan pelayanan kurang tepat waktu, dalam memberikan tanggapan atas keluhan pasien seringkali kurang baik, dalam menyampaikan informasikurang jelas dan kurang mudah dimengerti.
Kualitas pelayanan dalam bentuk jaminan berpengaruh signifikan terhadap kepuasan pasien RSUD Blambangan Banyuwangi. Hal ini dapat dijelaskan bahwa pasien RSUD Blambangan Banyuwangi akan terpuaskan apabila rumah sakit memberikan jaminan apabila terjadi kesalahan pada hasil kinerja perawat dan dokter, perawat dan dokter memiliki sifat sopan, ramah, jujur, dan dapat dipercaya, penarikan tarif biaya sesuai dengan kualitas pelayanan yang diterima dan perawat dan dokter mempunyai kemampuan, pengetahuan dan kecakapan dalam menjalankan tugasnya
Kualitas pelayanan dalam bentuk empati berpengaruh signifikan terhadap kepuasan pasien RSUD Blambangan Banyuwangi. Hal ini dapat dijelaskan bahwa pasien RSUD Blambangan Banyuwangi akan terpuaskan apabila rumah sakit memberikan kemudahan pelayanan yang menggunakan askes, perawat dan dokter tidak membiarkan pasien menunggu antrian terlalu lama, perawat dan dokter memberikan perhatian yang baik kepada pasien dan perawat dan dokter berkomunikasi dengan baik kepada semua pasien